2

2.2 Sejarah Penemuan Poliuretan
Poliuretan bisa ditemukan pada berbagai jenis benda yang ada di sekitar kita. Contohnya pada cairan pelapis dan cat, serta elastomer keras seperti yang terdapat pada roda roller blade, penyekat dengan bahan keras, busa lentur lembut, atau serat elastis. Itu adalah hasil Prof. Dr. Otto Bayer (1920-1982) atau dikenal “bapak” industry poliuretan, beliau pun merupakan seorang penemu dari suatu proses yang disebut diisocyanate polyaddition.
Pada awal Perang Dunia II, poliuretan digunakan untuk pertama kalinya yaitu sebagi pengganti karet. Dengan berbagai inovasi sehingga pada saat ini penggunaannya telah semakin luas. Selama perang, pelapis poliuretan difungsikan sebagai pengisi kertas di industry pakaian tahan udara, pengkilat pesawat, dan pelapis anti kimia dan atau karat.
Hingga akhir Perang Dunia II, poliuretan diproduksi dan digunakan dalam industry dan dapat dipesan untuk formulasi kegiatan tertentu. Pada tahun 1950-an poliuretan ditemukan pada bahan pelapis dan perekat, elastomer, dan busa yang keras. Tidak sampai akhir tahun 1950-an, busa lentur yang terdapat pada bantal telah tersedia di pasaran. Dengan pengembangan lebih lanjut, yaitu pengembangan polieter poliol yang berbiaya rendah maka busa lentur tersebut semakin banyak aplikasinya contohnya pada saat ini yaitu di bidang otomotif. Dengan beragam inovasi, tak heran jika poliuretan dapat ditemukan pada berbagai benda di sekitar kita seperti meja, kursi, tempat tidur, pakaian, sepatu, mobil, penyekat dinding, perabotan, atap, dan tembok rumah.
2.3 Bahan Kimia dalam Poliuretan
Kimia poliuretan didasarkan pada reaksi isosianat dengan senyawa aktif yang terdapat hidrogen. Isosianat memiliki satu atau lebih dari kelompok isosianat yang sangat reaktif (-N = C = O). Kelompok ini akan mudah bereaksi dengan atom hidrogen yang melekat pada atom elektronegatif karbon. Dari banyak senyawa dengan ciri-ciri tersebut, bahan-bahan utama untuk reaksi pembentukan poliuretan tercantum dalam tabel berikut.

Reaksinya yaitu

Reaksi normal pada dasarnya melibatkan selain dari ikatan karbon-nitrogen ganda. Pusat nukleofilik senyawa yang mengandung hidrogen aktif akan menyerang karbon elektrofilik. Kemudian atom hidrogen aktif menambahkan atom nitrogen. Elektron mengikat molekul isosianat untuk meningkatkan reaktivitas dari kelompok NCO terhadap kelompok nukleofilik. Elektron kelompok mengurangi reaktivitas. Dengan demikian, sebagian besar reaksi, isosianat aromatik lebih reaktif daripada isosianat yang alifatik. Efek dari halangan sterik di kedua isosianat atau di senyawa hidrogen aktif akan berpengaruh pada reaksi tersebut.
2.4 Cara Pembuatan Poliuretan
Busa poliuretan biasanya dibuat dengan cara menambahkan sedikit volatile yang dikenal sebagai bahan pengembang (blowing agent) gunanya untuk mereaksikan campuran dari Acetone, methylene chloride dan sedikit dari beberapa chlorofluorocarbon (CFCl3) yang sering digunakan untuk bahan pengembang (blowing agent) pada pembuatan poliuretan. Terdapat dua sistem yang dapat digunakan yaitu:
1. Sistem one-step (one-shot process) : semua bahan baku untuk menghasilkan polimer dicampur bersama-sama.
2. Sistem two-step (prepolymer process) : komponen poliol direaksikan dengan polyisocyanate untuk kemudian membentuk suatu prepolimer dengan gugus akhir isocyanate, proses ini disebut prepolimer, dan masih terdapat isocyanate yang berlebih. Campuran prepolimer kemudian di reaksikan dengan diol atau disebut diamine sebagai bahan pemanjang rantai (chain extender).
Sistem two-step menghasilkan struktur yang lebih beraturan dibandingkan dengan sistem one-step, hal tersebut dikarenakan pada sistem two-step terbentuklah suatu oligomer yang mana gugus polyol ditutup dengan diisocyanate. Oligomer yang terbentuk tersebut kemudian di reaksikan dengan suatu chain extender. Sistem one-step biasanya digunakan dalam pembentukan polyurethane foam, berbeda dengan sistem two-step yang lebih biasa digunakan pada produksi elastomer.
Formula Dasar Untuk Membuat Busa Poliuretan

2.5 Fungsi dan Manfaat Poliuretan
Busa poliuretan ada banyak bentuknya seperti busa yang keras, busa yang lentur, pelapis atau coating, perekat, penyekat, dan juga elastomer. Busa keras biasanya digunakan untuk bahan penyekat gedung, pemanas air, serta pendingin. Busa jenis ini juga dapat digunakan untuk flotation dan pengaturan jumlah energy. Busa yang lentur difungsikan sebagai bahan pelembut pada kain pelapis kasur, mobil, maupun furniture dan pelembut karpet serta dapat juga digunakan sebagai pengepak barang. Perekat dan penyekat poliuretan dapat diaplikasikan dalam kandang ayam, konstruksi transportasi, kapal, dan berbagai fungsi lain yang memerlukan kekuatan, ketahanan pada kelembaban, dan sifat tahan lama dari material poliuretan tersebut.
Untuk produk poliuretan rigid yang berbentuk padat dengan densitas 400 – 2000 kg/m3 yang biasa digunakan untuk casing tv, bemper mobil, isolator panas dan peredam suara, housing computer, travelling bag (Duraposita, 1998).
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Poliuretan adalah salah satu material terbarukan yang sedang menjadi sorotan oleh para peneliti. Poliuretan yaitu material yang terbentuk dari campuran dari dua bahan kimia dengan komponen A yaitu poliol yang biasanya dari minyak bumi dan komponen B yaitu isosianat. Sejarah poliuretan sendiri dimulai dari awal Perang Dunia II yang ditemukan oleh Prof. Dr. Otto Bayer (1920-1982) kemudian diteliti lebih lanjut dan inovasi-inovasi baru menjadi seperti sekarang ini.
Bahan kimia dalam poliuretan yaitu diantaranya poliol dan isosianat. Cara pembuatannya yaitu ada system one step dan system two step. Fungsi dan manfaatnya sendiri sangat banyak. Hampir semua benda di sekitar kita terdapat poliuretan.
Material terbarukan ini hendaknya dikembangkan agar Indonesia tidak selalu bergantung dengan import. Dapat dilihat bahwa Indonesia sendiri mempunyai potensi yang cukup untuk memproduksi poliuretan sendiri. Permintaan dari dalam negeri pun cukup banyak sehingga akan menjadi perusahaan yang mampu bersaing baik nasional maupun global.