TUGAS MINI RISET IMPLEMENTASI PAI DALAM KELUARGA

TUGAS MINI RISET
IMPLEMENTASI PAI DALAM KELUARGA
(Penelitian pada Keluarga Komplek Riung Bandung Jl. Keadilan Selatan IV Rt 11 Rw 09 Kel. Derwati Kec. Rancasari Kota Bandung)
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah PAI dalam Keluarga
Dosen
Prof. Dr. H. Uus Ruswandi, M.Pd
Disusun Oleh
Muiz Fahmi Septiana1152020153
Nunung Nurazizah1152020170
Nurhasanah1152020176
Jurusan Pendidikan Agama Islam
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri
Bandung
2018
KATA PENGANTARDengan memuji kepada hadirat Allah Swt. yang senantiasa memberikan rahmat beserta karunianya kepada seluruh makhluk-Nya. Sehingga dengan rahmat-Nya tersebut kami dapat menyelesaikan Tugas Mini Riset ini yang berjudul “Implementasi PAI dalam Keluarga (Penelitian pada Keluarga Komplek Riung Bandung)”
Dalam pembuatan dan terselesaikannya tugas mini riset ini tentu banyak pihak yang terlibat. Oleh karena itu, kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi atas ini.
Kemudian, tugas mini riset ini kami buat dengan teliti dan maksimal. Tetapi, kami sadar bahwa semuanya tidak ada yang sempurna termasuk tugas yang kami buat ini. Oleh karena itu, kami menerima dengan senang hati kepada pembaca untuk memberikan saran dan masukannya untuk kelanjutan dan perbaikan makalah ini.

Bandung, 22 Juni 2018
Penulis
DAFTAR ISI TOC o “1-2” h z u KATA PENGANTAR PAGEREF _Toc517384042 h iDAFTAR ISI PAGEREF _Toc517384043 h iiDAFTAR TABEL PAGEREF _Toc517384044 h iiiBAB I PENDAHULUAN PAGEREF _Toc517384045 h 1A.Latar Belakang Masalah PAGEREF _Toc517384046 h 1B.Rumusan Masalah PAGEREF _Toc517384047 h 4C.Tujuan Penelitian PAGEREF _Toc517384048 h 4D.Kegunaan Penelitian PAGEREF _Toc517384049 h 4E.Penelitian Terdahulu yang Relevan PAGEREF _Toc517384050 h 5F.Kerangka Berfikir PAGEREF _Toc517384051 h 6BAB II KAJIAN PUSTAKA PAGEREF _Toc517384052 h 7A.Keteladanan didalam Keluarga PAGEREF _Toc517384053 h 7B.Lingkungan terhadap anak PAGEREF _Toc517384054 h 8C.Pola Asuh Orangtua PAGEREF _Toc517384055 h 13BAB III LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN PAGEREF _Toc517384056 h 21A.Jenis dan Metode Penelitian PAGEREF _Toc517384057 h 21B.Jenis Data dan Sumber Data PAGEREF _Toc517384058 h 21C.Teknik Pengumpulan Data PAGEREF _Toc517384059 h 22D.Analisis Data PAGEREF _Toc517384060 h 23E.Prosedur dan Teknik Pemeriksaan Uji Keabsahan Data PAGEREF _Toc517384061 h 24BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN PAGEREF _Toc517384062 h 26A.Profile Lokasi Penelitian PAGEREF _Toc517384063 h 26B.Deskripsi Hasil Penelitian PAGEREF _Toc517384064 h 27C.Pembahasan PAGEREF _Toc517384065 h 38BAB V SIMPULAN DAN SARAN PAGEREF _Toc517384066 h 42A.Simpulan PAGEREF _Toc517384067 h 42B.Saran PAGEREF _Toc517384068 h 43DAFTAR PUSTAKA PAGEREF _Toc517384069 h 44LAMPIRAN PAGEREF _Toc517384070 h 46A.Pertanyaan Wawancara PAGEREF _Toc517384071 h 46

DAFTAR TABEL TOC h z c “Bagan” Bagan 1 Skema Kerangka Berfikir PAGEREF _Toc517381940 h 6
BAB IPENDAHULUANLatar Belakang MasalahPendidikan agama islam memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Di buktikan dengan disebutkannya konsep pendidikan dalam Al-Quran dan hadits. Pendidikan berperan dalam membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa pada Allah SWT, menghargai dan mengamalkan ajaran agama islam dalam keluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu pendidikan agama islam harus diajarkan pada anak sejak dini.
Pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Maka seseorang harus harus mempunyai suatu pengetahuan sebagai perlengkapan dasar manusia dalam menempuh kehidupan. Kehidupan manusia sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas suatu pengetahuan yang diperolehnya.

Pendidikan yang diberikan bukan hanya pendidikan pengetahuan saja, melainkan dengan pendidikan moral, sikap dan tingkah laku. Pendidikan tersebut ada dalam pendidikan islam. Pendidikan islam adalah pendidikan yang melatih sensibilitas individu sedemikian rupa, sehingga dalam perilaku mereka terhadap kehidupan, langkah-langkah, keputusan, serta pendekatan- pendekatan mereka terhadap semua ilmu pengetahuan mereka diatur oleh nilai- nilai etika islam yang sangat dalam dirasakan.
Zakiah darajat memberikan definisi pendidikan islam dalam keluarga sebagai pendidikan yang meliputi penumbuhan dan pengembangan iman dan takwa (rasa agama), pembinaan akhlak, pembentukan kepribadaian dan sikap, serta pengembangan bakat dan minat anak. Pendidikan dan pembinaan mental, tidak dimulai dari sekolah akan tetapi dari rumah tangga. Sejak anak dilahirkan ke dunia, mulailah ia menerima didikan-didikan dan perlakuan-perlakuan yang mula-mula dari bapak ibunya.

Pendidikan islam harus mulai diperkenalkan, diajarkan dan dibiasakan sejak dini. Pelaksanannya harus dimulai sejak di dalam lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang secara langsung berpengaruh terhadap perilaku dan perkembangan anak. Pendidikan yang diperoleh anak dalam keluarga menentukan hasil anak di lingkungan selanjutnya, baik sekolah maupun dalam masyarakat. keluarga memiliki tanggung jawab mendidik anak-anak dari Tuhan sebagai kodrat, dan keluarga branggung jawab penuh atas pendidikan anak-anaknya.
Ayat Al-Quran menunjukan bahwa ketika manusia pertama kali hidup di dunia, manusia tidak mengetahui apa-apa, seperti halnnya dijelakan dalam surat An-Nahl ayat 78. Yang artinya “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (Q.S. An- Nahl:78)
Keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi seorang anak untuk mendapatkan pendidikan. Pendidikan tersebut merupakan proses awal untuk jenjang selanjutnya, maka dari itu pendidikan dimulai dari lingkungan keluarga. Di lingkungan keluarga anak mendapatkan pendidikan tentang nilai-nilai sosial, agama dan moral. Namun dalam mendidik dan melatihnya tidak mudah, banyak factor yang menghambat dalam pelatihan tersebut. Diantaranya adalah faktor lingkungan.
Pengaruh pendidikan yang diberikan pada seorang anak dalam keluarga sangat signifikan. Karena pendidikan yang mereka dapatkan dalam keluarga merupakan modal untuk mendapatkan pendidikan selanjutnya. Maka dari itu seorang anak sebelum mendapatkan pendidikan di lingkungan sekolah, masyarakat dan lainnya, mereka harus mendapatkan pengetahuan dari orang tuanya, supaya ketika merek terjun ke masyarakat mereka akan mampu mengatasi masalah yang ada di masyarakat.

Pendidikan keluarga mengembangkan fitrah manusia, yang bertujuan agar anak tersebut tidak menjadi nasrani atau majusi dan tidak memiliki kualitas rendah. Fitrah yang di bawa oleh seorang anak adalah fitrah beragama. Maka dari itu orang tua harus mengembangkan fitrah tersebut melalui pendidikan agama yang dilaksanakan dalam lingkungan keluarga. Mengapa hal tersebut dilakukan ? Supaya anak tidak goyah imannya dalam menghadapi permasalan di masyarakat, karena ia telah mendapatkan modal yang kokoh untuk modal selanjutnya. Sebgaimana sabda Rosulullah yang artinya “Tidaklah dilahirkan seorang anak atas fitrah kemudian orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau majusi. (H.r. Muslim).

Dengan demikian peranan dan tanggung jawab orang tua sebagai pendidik pertama dan utama sangat berperan sekali dalam keluarga untuk mengembangkan potensi yang ada pada anak. Terutama pendidikan agama islam yang harus diperioritaskan dalam lingkungan keluarga. Supaya mereka siap menghadapi masalah yang ia hadapi terlebih dengan perkembangan tekhnologi dan informasi yang semakin maju.
Orang tua perlu melaksanakan pendidikan agama islam dalam keluarga untuk mengembangkan potensi anak dari pengaruh globalisasi. Dan bentuk penerapan pendidikan islam dalam keluarga dimulai bukan hanya ketika anak telah lahir ke dunia, tetapi pasangan hidup, saat kehamilan, pemilihan nama, hingga memilih teman yang baik bagi anak.
Rumusan MasalahDalam Penelitian ini terdapat rumusan masalah sebagai berikut :
Bagaimana orang tua mengimplementasikan praktek peribadahan di dalam keluarga ?
Bagaimana orang tua mengatasi faktor lingkungan terhadap anak ?
Bagaimana cara orang tua memberikan pola asuh terhadap anak di dalam keluarga ?
Tujuan PenelitianDalam Penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut :
Untuk mengetahui pengimplementasi orang tua terhadap praktek peribadahan di dalam keluarga
Untuk mengetahui orang tua mengatasi factor lingkungan terhadap anak
Untuk mengetahui cara orang tua memberikan pola asuh terhadap anak di dalam keluarga.
Kegunaan PenelitianAdapun manfaat dari adanya penelitian ini untuk mengetahui seberapa pentingnya peran pendidikan islam dalam keluarga karena pada hakikatnya pendidikan Islam tertanam didalam lingkungan keluarga dengan maksud agar manusia memiliki keyakinan yang kokoh dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam hidupnya
Penelitian Terdahulu yang RelevanDalam hal ini peneliti mengambil beberapa hasil penelitian terdahulu yang relevan :
Judul : Pelaksanaan pendidikan Islam dalam keluarga pada kedua orangtua bekerja disusun oleh Fathmawati program sarjana strata satu di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2009.

Penelitian ini menggunakan metode deskriftif kualitatif dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Dan jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan yang pengumpulan datanya dilakukan dilapangan seperti dilingkungan masyarakat, lembaga-lembaga dan lembaga pemerintahan.

Dari penelitian terdahulu yang relevan diatas mempunyai jenis analisis data yang sama yaitu sama-sama menggunakan metode deskriftif kualitatif.
Judul : Implementasi pendidikan agama dalam keluarga dan kegiatan keagamaan disekolah menengah kejuruan Setia Budhi Rangkas Bitung Banten disusun oleh Marnah Guru SMP Negeri di Banten tahun 2016.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan instrumen wawancara, dan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pengumpulan data, reduksi data, display data, verifikasi dan penegasan kesimpulan. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 10 orang dari 2 sekolah yakni kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru PAI, orangtua dari siswa dan dari kegiatan atau aktifitas keagamaan yang dilaksanakan disekolah.

Dari penelitian terdahulu yang relevan diatas mempunyai jenis analisis data yang sama yaitu sama-sama menggunakan metode deskriftif kualitatif.

Kerangka BerfikirBagan SEQ Bagan * ARABIC 1 Skema Kerangka Berfikir1333165278088Pendidikan Agama Islam
00Pendidikan Agama Islam

255906516118500
721995102870Keluarga
00Keluarga

398653023431510083802324100256984569850001005205236855
2970530132715Anak
00Anak
107204132715Orangtua
00Orangtua

3945736233554009906982330520024288753746500
1413552274097Menjadi Anak yang Shaleh dan Shalehah
00Menjadi Anak yang Shaleh dan Shalehah
981075469900

BAB IIKAJIAN PUSTAKAKeteladanan didalam KeluargaKeluarga adalah sebagai unit pertama dan institusi utama dalam masyarakat. Menurut Hasan Langgulung didalam keluarga tersebut berkembang individu daan disitulah terbentuknya tahap-tahap awal proses pemasyarakatan dan melalui interaksi dengannya individu memperoleh pengetahuan, keterampilan, minat, nilai-nilai, emosi dan sikapnya dalam hidup dan itu akan menjadi anak memperoleh ketentraman dan ketenangan.

Orangtua memegang peranan yang sangat penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. Sejak bayi lahir ibunya yang selalu berada disampingnya. Oleh karena itu, ia akan meniru perangai ibunya. Diantara yang menjadi kewajiban orangtua dalam berkeluarga adalah memberikan didikan agama kepada keluarga itu sendiri. Artinya, orangtua lah yang harus mulai menanamkan pengertian agama dari sejak dini.
Dari sekian banyak kewajiban-kewajiban orangtua terhadap pendidikan agama anak-anaknya, adalah mendidik dan memberi teladan anak untuk melakukan ibadah seperti mengajak shalat anak sejak dini. Oleh karena itu, sudah semestinya orangtua menjadi contoh baik dalam pandangan anak, yang tingkah laku dan sopan santunnya akan ditiru, disadari atau tidak, bahkan semua keteladanan itu akan melekat pada diri dan perasaannya, karena keteladanan merupakan faktor penentu baik buruknya anak.

Lingkungan terhadap anakLingkungan keluarga
Keluarga adalah unit kesatuan sosial terkecil yang mempunyai peranan sangat penting dalam membina anggota-anggota keluarganya. Secara prinsip keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas dua orang atau lebih berdasarkan pada ikatan perkawinan dan pertalian darah, hidup dalam satu rumah tangga di bawah asuhan seorang kepala rumah tangga, berinteraksi di antara anggota keluarga, setiap anggota keluarga memiliki peranannya masing-masing dalam menciptakan dan mempertahankan budaya keluarga.
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang dikenal bagi seseorang begitu ia dilahirkan di dunia. Keluarga adalah tempat yang paling efektif dimana seorang anak menerima kebutuhan kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan bagi hidupnya, serta kondisi kondisi biologis, psikologis, dan pendidikan serta kesejahteraan seorang anak amat tergantung pada keluarga. Jadi untuk menciptakan kesejahteraan bagi anak maka kesejahteraan keluarga merupakan hal utama yang harus dibangun. Apabila anak telah sejahtera, maka akan terbentuk anak yang berkualitas, berkompeten, dan dapat mandiri.
Untuk menyeimbangkannya orangtua perlu memberikan beberapa materi untuk membina anaknya. Menurut Widodo Supriyono, materi-materi yang perlu dididikkan kepada anak didalam keluarga adalah: Pertama, utamanya kepada anak dibekalkan pendidikan keimanan terlebih dahulu, eksplisit sikap ketuhanan, ataupun pendidikan rohani spiritual-spiritual. Kedua, materi akhlak yang mulia, yang termasuk di dalamnya budi pekerti, dan sikap sosial, serta pengetahuan tentang kehidupan ukhrowi. Ketiga, materi pendidikan intelektual, yang menyangkut juga kebudayaan, peradaban, sains, nash Al-Qur’an an Al-hadis, serta sejarah kenabian. Keempat, materi pendidikan keterampilan, yang berupa keterampilan praktis professional, atau lainnya. Kelima, materi pendidikan jasmaniah, seperti olah raga, berenang, berkuda dan lain-lainnya.

Sementara itu, menurut Riwayat, langkah awal dalam mendidik anak adalah penanaman akidah. Setelah akidah anak kuat, orang tua perlu menekankan pendidikan pada aspek ibadah seperti salat, berdakwah dengan memberi contoh terlebih dahulu, seperti mencegah diri dari yang mungkar dan selalu melakukan kebaikan. Setelah pendidikan ibadah salat didirikan, maka langkah pendidikan berikutnya adalah mendidik anak untuk berjiwa pendakwah, yaitu suka memberi contoh dalam berbuat baik dan meninggalkan kemungkaran. Menyebarkan kebaikan, dan memberantas kemungkaran, baik dengan cara memberi contoh, dengan lisan, maupun perbuatan. Langkah pendidikan berikutnya adalah menekankan pendidikan kepada aspek akhlak yang mulia, seperti, sabar, qanaah, tawadhu, dermawan, dan akhlak mahmudah lainnya.

Berdasarkan uraian di atas maka materi pendidikan Islam sebagai berikut:
Pendidikan akhlak
Pendidikan ibadah
Pendidikan pokok-pokok ajaran islam
Dalam pendidikan pokok-pokok ajaran islam meliputi:
Mengenai Allah
Menegnai al-quran dan hadits
Pendidikan akhlakul karimah
Lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah adalah suatu kawasan tempat anak-anak diajarkan untuk mendapatkan, mengembangkan, dan menggunakan sumber-sumber dari keadaan sekitarnya. Sekolah yang merupakan tempat dimana pendidikan diterapkan dan diajarkan untuk memandang sesuatu secara objektif sesuai fakta-fakta yang ada, ternyata terdapat ketimpangan gender. Ada beberapa faktor di lingkungan sekolah yang menyebabkan ketimpangan gender di bidang pendidikan. Menurut Bemmelen (2003) dalam Sudarta (2008) faktor-faktor ketimpangan gender dalam pendidikan adalah angka buta huruf, Angka Partisipasi Sekolah (APS), pilihan bidang studi, komposisi staf perngajar dan kepala sekolah. Menurut Sudarta (2008) sendiri faktor penentu ketimpangan gender adalah masalah lama (sejarah), nilai gender yang dianut oleh masyarakat, nilai dan peran gender dalam buku ajar, nilai gender yang ditanamkan guru, dan kebijakan yang timpang gender, sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan ketimpangan gender adalah :
1. Pilihan Bidang Studi
Ketimpangan gender terlihat juga dalam pilihan bidang studi. Hal ini dapat dibuktikan pada sekolah kejuruan, seperti misalnya Sekolah Kepandaian Puteri (SKP), yakni suatu sekolah khusus untuk anak perempuan, Sekolah Teknik Menengah (STM) umumnya untuk anak laki-laki dan sebagainya. Penjurusan di tingkat SLTA, umumnya anak perempuan lebih banyak mengisi jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), sedangkan anak laki-laki lebih banyak mengisi jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Berkaitan dengan pilihan fakultas dan jurusan di Perguruan Tinggi yang dinyatakan oleh Sudarta (2008) bahwa proporsi laki-laki dan perempuan di fakultas dan jurusan di Universitas Indonesia (pada tahun 1992/1993) menunjukkan ketimpangan gender yang signifikan. Di samping itu, Agung Ariani (2002) dalam Sudarta (2008) juga menyatakan bahwa umumnya perempuan memilih sekolah yang penyelesaian pendidikannya memerlukan waktu pendek dan cepat bisa bekerja, sebagai alasannya adalah untuk menunjang ekonomi rumah tangga dan untuk biaya melanjutkan studi saudara laki-lakinya.
Lingkungan masyarakat
Masyarakat adalah sekelompok manusia yang secara relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, mendiami suatu tertentu, memiliki kebudayaan yang sama, dan melakukan sebagian besar kegiatannya dalam kelompok tersebut (Horton dan Hunt, 1999). Jadi lingkungan masyarakat adalah suatu kawasan tempat sekelompok manusia yang secara relatif mandiri, hidup bersama-sama, memiliki kebudayaan yang sama, dan melakukan sebagian besar kegiatannya dalam kelompok tersebut.
Salah satu penyebab ketimpangan gender di dalam lingkungan masyarakat adalah budaya. Banyak yang menganggap bahwa kondisi demikian normal saja. Seumur hidup, telah melihat suatu fakta bahwa perempuan bekerja di sektor domestik dan laki-laki mencari nafkah. Anak perempuan main boneka dan anak laki-laki main mobil-mobilan.
Budaya yang demikian bukan hanya diterima baik oleh laki-laki tetapi juga perempuan. Di Indonesia pada dasarnya terdapat suatu budaya kekeluargaan atau kekerabatan yang mengatur kehidupan masyarakatnya, terdiri dari tiga sistem kekerabatan yaitu :
Sistem kekerabatan patrilinial yaitu sistem kekerabatan yang menarik garis keturunan dari garis laki-laki (ayah), sistem ini dianut di Tapanuli, Lampung, Bali dan lain-lain.
Sistem kekerabatan matrilinial yaitu sistem kekerabatan yang menarik garis keturunan dari garis perempuan (ibu), sistem ini banyak dianut oleh masyarakat Sumatra Barat.
Sistem kekerabatan parental yaitu sistem kekerabatan yang menarik garis keturunan dari garis laki-laki (ayah) dan perempuan (ibu), sistem ini banyak dianut oleh masyarakat Jawa, Madura, Sumatra Selatan dan lain-lainnya.
Selain budaya di dalam lingkungan masyarakat, anak juga akan dipengaruhi oleh teman sebayanya (peer group). Menurut Horton dan Hunt (1999) peer group adalah suatu kelompok dari orang-orang yang seusia dan memiliki status yang sama, dengan siapa seseorang umumnya berhubungan atau bergaul. Di mulai dari masa anak-anak hingga dewasa sebagian besar orang akan membangun pertemanan dengan teman sebaya yang memiliki minat yang sama. Secara umum, Hartup dan Stevens (1999) dalam Baron dan Byrne (2005) mengatakan bahwa memiliki teman adalah suatu hal yang positif sebab teman dapat mendorong self-esteem dan menolong dalam mengatasi stress, tetapi teman juga dapat memiliki efek negatif jika mereka antisosial, menarik diri, tidak suportif, argumentatif, atau tidak stabil.
Peer group merupakan suatu wadah untuk bersosialisasi. Menurut Havighurst dalam Ahmadi (2004) peer group memiliki tiga fungsi, yaitu :
Mengajarkan kebudayaan
Mengajarkan mobilitas sosial atau perubahan status.
Memberi peranan sosial yang baru.
Jadi di dalam peer group anak akan belajar banyak hal diantaranya adalah budaya, status dan peranannya baik dalam kehidupan keluarga, sekolah maupun masyarakat.

Pola Asuh OrangtuaPengertian Pola Asuh
Secara etimologi pola asuh terdiri dari dua kata, yaitu “pola” dan “asuh”. Pola yang berarti cara, asuh berarti menjaga (membantu, melatih dan sebagainya) orang supaya dapat berdiri sendiri. Sedangkan secara terminologi, pola asuh anak adalah suatu pola atau sistem yang diterapkan dalam menjaga, merawat dan mendidik seorang anak yang bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu.

Pemahaman para ahli tentang pola asuh anak memiliki perbedaan, baik dari sudut pandang maupun cara mengungkapkannya. Menururt Maimunah Hasan pola asuh anak adalah kepemimpinan dan bimbingan yang dilakukan terhadap anak yang berkaitan dengan kepentingan hidupnya.

Adapun menurut Dagun, pola asuh anak adalah cara atau teknik yang dipakai orang tua dalam mendidik dan membimbing anak-anaknya agar kelak menjadi orang yang berguna dan sesuai dengan harapan yang mereka inginkan. Sedangkan Suardiman mengatakan bahwa pola asuh anak adalah suatu cara orang tua menjalankan peranan yang penting bagi perkembangan anak selanjutnya, dengan memberi bimbingan dan pengalaman serta pengawasan agar anak dapat menghadapi kehidupan di masa yang akan datang dengan sukses atau berhasil.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pola asuh anak itu adalah sikap kepemimpinan yang diberikan kepada seorang anak baik dari segi pembentukan karakter, pengalaman dan sebagainya serta pemberian pengawasan terhadap perkembangan anak guna tercapainya anak yang bermanfaat bagi agama, keluarga, bangsa dan negara.

Macam-Macam Pola Asuh
Menurut yang dipaparkan oleh Maimunah Hasan dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Anak usia Dini”. Buku tersebut menyebutkan bahwa terdapat 4 pola asuh yaitu :
Pola asuh Autoritatif (Demokratis)
pola asuh autoritatif (demokratis), otoriter, permisif (penyabar), dan penelantar.Pola asuh autoritatif (demokratis) adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio. Orang tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan, dan pendekatan kepada anak bersifat hangat. Pola asuh ini memperlihatkan pengawasan ekstra ketat terhadap tingkah laku anak-anak, tetapi mereka juga bersikap responsif, menghargai dan menghormati pemikiran, perasaan serta mengikutsertakan anak dalam mengambil keputusan.

Orang tua yang autoritatif tidak menyerahkan haknya kepada anaknya untuk menetapkan standar perilaku bagi anak itu dan akan menanamkan pemahaman mengenai pentingnya kepatuhan terhadap standar tersebut. Untuk mengajarkan kepatuhan denga tetap menghargai individualitas anak, orang tua yang autoritatif memberikan alasan dan penjelasan untuk tuntutan-tuntutan yang dibebankan kepada anaknya.Ciri-ciri pola asuh autoritatif (demokratis) menurut Hurlock yaitu:
1) Anak-anak diberi kesempatan untuk mandiri dan mengembangkan kontrol internalnya.

2) Anak diakui keberadaannya oleh orang tua.

3) Anak dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

Pola asuh otoriter
Pendekatan pola asuh otoriter merupakan mendidik atau membimbing dengan cara keras, tegas dan harus dilakukan oleh anak setelah diperintah oleh kedua orang tuanya. Tindakan pola pendidikan dan bimbingan ini dipengaruhi oleh adat istiadat, agama dan norma atau lingkungan keluarga yang menerapkan sistem militer. Tujuan dari pola semacam ini adalah supaya anak menjadi patuh, disiplin, tertib, dan tidak banyak kemauan atau melawan.

Orang tua tipe otoriter selalu menuntut dan mengendalikan semata-mata karena kekuasaan, tanpa kehangatan, bimbingan, dan komunikasi dua arah. Mereka mengendalikan dan menilai perilaku anak dengan standar mutlak. Orang tua tipe ini cenderung mengancam dan menghukum anak apabila tidak melakukan apa yang dikatakan orang tua. Mereka menghargai kepatuhan, rasa hormat terhadap kekuasaan mereka dan tradisi. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Orang tua tipe ini juga tidak memerlukan umpan balik dari anaknya atau mengerti mengenai anaknya. Pengasuhan otoriter ditandai dengan orang tua yang melarang anaknya dengan mengorbankan otonomi anak. Pengasuhan otoriter mempunyai aturan-aturan yang kaku dari orang tua.

Anak dan remaja dari keluarga otoriter cenderung moderat dalam kinerja sekolahnya dan tidak terlibat dalam perilaku bermasalah, tetapi mereka menunjukkan keterampilan sosial yang kurang baik, harga diri yang lebih rendah dan tingkat depresi yang lebih tinggi. Selain itu juga, rasa keberanian dan kreativitas anak dalam mengambil keputusan kurang berkembang dengan baik, anak menjadi pemalu/penakut, terkadang keras kepala, keinginan untuk menyendiri, kurang tegas dalam mengambil tindakan atau menentukan sikap dan suka bertengkar dan licik serta tidak mau menurut.
Pola asuh permisif
Orang tua yang permisif cenderung moderat hingga tinggi dalam dimensi responsifnya tetapi rendah dalam dimensi tuntutannya. Orang tua dengan gaya asuh ini menerapkan relatif sedikit tuntutan kepada anaknya dan cenderung tidak konsisten dalam menerapkan disipilin. Mereka selalu menerima impuls, keinginan dan perbuatan anaknya serta cenderung kurang memonitoring perilaku anaknya. Meskipun anaknya cenderung ramah dan mudah bergaul, tetapi mereka kurang memiliki pengetahuan tentang perilaku yang tepat untuk situasi sosial pada umumnya dan kurang bertanggungjawab atas perilaku yang salah.

Orang tua tipe penyabar akan menerima, responsif, sedikit memberikan tuntutan kepada anak-anaknya. Anak akan lebih positif mood-nya dan lebih menunjukkan vitalitasnya dibandingkan anak dari keluarga otoriter. Orang tua yang serba membolehkan (permisif) akan mendorong anak menjadi agresif dan cenderung tidak percaya diri.

Anak dan remaja dari keluarga yang permisif cenderung terlibat dalam perilaku bermasalah dan kurang baik dalam kinerja sekolahnya, tetapi mereka menunjukkan harga diri yang lebih tinggi, keterampilan sosial yang lebih baik, dan tingkat depresi yang lebih rendah.

Menurut Hurlock, ciri-ciri pola asuh permisif yaitu:
1) Adanya kontrol yang kurang dari orang tua
2) Orang tua bersifat longgar/bebas
3) Bimbingan terhadap anak kurang
4) Kurang tegas dalam menerapkan peraturan yang ada
5) Anak diberikan kesempatan sebebas-bebasnya untuk berbuat dan memenuhi keinginannya.

Pola asuh penelantaran
Orang tua dengan gaya asuh penelantar rendah dalam dimensi responsifnya maupun dimensi tuntutannya. Dalam kasus yang ekstrim, orang tua ini akan mengabaikan anaknya atau bahkan menolak kehadirannya. Sehingga anak dan remaja yang orang tuanya tidak peduli adalah yang paling buruk kinerjanya baik dalam kompetensi sosial maupun kompetensi instrumental
Orang tua tipe panelantar lebih memperhatikan aktivitas diri mereka sendiri dan tidak terlibat dengan aktivitas anak-anaknya. Mereka tidak tahu di mana anak-anak mereka berada, apa yang sedang dilakukan dan siapa teman-temannya saat di luar rumah. Mereka tidak tertarik pada kejadian-kejadian di sekolah anak jarang bercakap-cakap dengan anaknya, dan tidak memperdulikan pendapat anak-anaknya. Anak yang dibesarkan dengan tipe ini, cenderung memiliki harga diri serta kepercayaan yang rendah. Rasa hormat dan tanggung jawab anak rendah, prestasi akademik tidak bisa dibanggakan, dan memiliki perilaku yang buruk.

Faktor yang mempengaruhi pola asuh anak
Tingkat pendidikan orangtua
Semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua, maka orang tua tersebut akan mampu menerapkan pengasuhan yang terbaik bagi anak-anaknya, sedangkan semakin rendah tingkat pendidikan orang tua, maka orang tua tersebut dalam menerapkan pengasuhan kepada anak-anaknya akan biasa-biasa saja. Hal ini dikarenakan pengetahuan seseorang akan dapat memberikan kontribusi bagi dirinya untuk memberikan sesuatu yang terbaik bagi anak-anaknya. Orang tua yang berpendidikan akan menghasilkan anak yang berpendidikan pula.

Tingkat ekonomi sosial anak
Selain tingkat pendidikan dari orang tua, hal-hal yang dapat memengaruhi pengasuhan orang tua kepada anaknya adalah tingkat sosial ekonominya. Semakin tinggi tingkat sosial dan ekonomi orang tua, maka orang tua tersebut akan berupaya dengan sebaik-baiknya memberikan pengasuhan kepada anak-anaknya.

Orientasi perhatian orangtua
Orang tua yang lebih mementingkan masalah pekerjaan, maka mereka tidak bisa menerapkan pengasuhan yang terbaik bagi anak-anaknya. Sementara orang tua yang bisa meluangkan waktunya untuk mengurus rumah tangganya maka mereka akan mampu menerapkan pengasuhan terbaik bagi anak-anaknya.

Pengetahuan agama
Seseorang yang telah memiliki pengetahuan agama yang baik, maka ia akan menerapkan pengasuhan bagi anak-anaknya dengan baik berdasarkan ajaran-ajaran agamanya. Dalam Islam anak merupakan amanah Allah, maka seseorang yang benar-benar menguasai pengetahuan tentang agama Islam akan memberikan pengasuhan bagi anak-anaknya berdasarkan ajaran Islam.

Kematangan kepribadian (keadaan psikologi) orangtua
Orang tua yang telah memiliki kepribadian yang matang, maka ia tidak segan-segan untuk memberikan pengasuhan yang terbaik bagi anak-anaknya. Sedangkan orang tua yang belum memiliki kepribadian yang matang, maka ia hanya akan setengah-setengah saja dalam menerapkan pengasuhan bagi anak-anaknya.

Lingkungan sekitar
Faktor lingkungan sangat menentukan pengasuhan yang orang tua berikan kepada anak-anaknya. Lingkungan yang baik memiliki potensi untuk memberikan kesempatan kepada orang tua menerapkan pengasuhan kepada anak-anaknya dengan baik. Sementara lingkungan yang buruk dimana kemaksiatan lebih dominan, maka memiliki potensi bagi para orang tua untuk menerapkan pengasuhan.

Budaya dan adat istiadat
Budaya dan adat istiadat yang dianut oleh masyarakat juga sangat memengaruhi pengasuhan orang tua bagi anak-anaknya. Masyarakat Batak dan Madura akan lebih memberikan pengasuhan kepada anak laki-laki mereka dengan baik, sedangkan anak perempuan mereka hanya biasa-biasa saja. Sementara masyarakat Jawa akan lebih memperhatikan anak perempuan dengan memberikan yang terbaik bagi mereka, sedangkan anak laki-laki biasa-biasa saja.

BAB IIILANGKAH-LANGKAH PENELITIANJenis dan Metode PenelitianMetode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus, dimana metode ini secara khusus meneliti suatu kasus atau fenomena tertentu yang ada didalam masyarakat untuk mempelajari latar belakang, keadaan dan interaksi yang terjadi.

Penelitian dengan metode ini tidak harus meneliti satu orang atau individu saja melainkan bisa dengan beberapa orang atau objek yang memiliki satu kesatuan fokus fenomena yang akan diteliti. Untuk mendapatkan data, penelitian studi kasus ini menggunakan teknik wawancara, observasi sekaligus dengan studi dokumenter yang kemudian akan dianalisis menjadi suatu teori.

Jenis Data dan Sumber DataJenis Data
Jenis data yang dikumpulkan untuk memecahkan permasalahan diatas adalah data kualitatif. Yang mana data kualitatif ini bertujuan untuk memahami kondisi dan pemikiran masyarakat pada umumnya serta membantu peneliti untuk dapat lebih mengerti gambaran luas sebuah persoalan dan dapat mengetahui penyebab atau alasan dari sebuah situasi.

Sumber Data
Lokasi Penelitian
Peneliti mengambil lokasi penelitian di Komplek Riung Bandung yang beralamat di Jl. Keadilan Selatan IV Rt. 11 Rw. 09 Kelurahan Derwati Kecamatan Rancasari Kota Bandung. Dasar penelitian lokasi ini karena data dan sumber yang diperlukan tersedia dikomplek tersebut.

Objek Penelitian
Pada penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah keluarga yang berada di Komplek Riung Bandung. Objek penelitian ini adalah tiga keluarga yang beralamat di Jl. Keadilan Selatan IV Blok ND. 12, ND. 14 dan ND. 17 dengan alasan berdasarkan hasil observasi 3 keluarga ini memiliki keunikan dalam segi keagamaannya.

Teknik Pengumpulan DataAdapun teknik dalam pengumpulan data dalam penelitian ini, sebagai berikut:
Observasi
Secara umum, pengertian observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan. Observasi hendak dilakukan ketika peneliti sudah menyiapkan beberapa aspek yang ingin dijadikan sumber data pokok.

Wawancara
Secara garis besar bahwa wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan (Anas, 2012: 82). Wawancara yang peneliti lakukan adalah langsung dengan orangtua selaku yang tertinggi didalam keluarga dan kepada anak sebagai data penguat atau tambahan dari apa yang disampaikan oleh orangtuanya.

Adapun pertanyaan yang diberikan seputar bagaimana orangtua mengenali adanya Tuhan, bagaimana cara meningkatkan keimanan anak melalui puasa dan sholat, keterkaitan lingkungan dengan keluarga serta tujuan akhir dari pendidikan yang orangtua berikan kepada anak.

Analisis DataDalam penelitian kualitatif ini ada beberapa macam analisis data sesuai dengan data kualitatif yang di teliti. Secara umum, model analisis data terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
Kelompok metode analisis teks dan bahasa
Content analysis (analisis ini)
Framing analysis (analisis bingkai)
Analisis kontruksi sosial media massa
Hermeneutic
Analisis wacana kritis
Kelompok analisis tema-tema budaya
Analisis struktural
Domain analysis
Taxonomi analysis
Componential analysis
Discovering cultural theme analysis
Constant comparative analysis
Grounded analysis
Ethnology
Kelompok analisis kinerja dan pengalaman individual serta perilaku institusi
Focus group discussion (FGD)
Studi kasus
Teknik biografi
Life’s history
Analisis SWOT
Penggunaan bahan dokumenter
Penggunaan bahan visual
Prosedur dan Teknik Pemeriksaan Uji Keabsahan DataMenurut Seiddel dalam Burhan Bungin mengatakan bahwa analisis data kualitatif prosesnya adalah sebagai berikut:
Proses pencatatan yang menghasilkan catatan lapangan yang bertujuan agar sumber data tetap dapat ditelusuri.

Mengumpulkan, memilah-milah, mengklasifikasikan, menyintesiskan, membuat ikhtisar dan membuat indeksnya.

Berfikir dengan membuat data memiliki makna, mencari dan menemukan pola dan hubungan-hubungan.

Membuat temuan-temuan umum.

Miles dan Huberman, mengemukakan bahwa teknik pemeriksaan uji keabsahan data memiliki dasar yang biasa dipakai oleh para peneliti, diantara tekniknya adalah:
Reduksi Data
Mereduksi data artinya merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal yang penting dan membuang yang tidak perlu
Penyajian Data
Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberi keumgkinan adanya penarikan kesimpulan berbentuk narasi dengan penyederhanaan makna tanpa mengurangi isinya.

Kesimpulan atau Verifikasi
Kesimpulan atau verifikasi adalah tahap akhir dalam proses analisa data. Pada bagian ini peneliti mengutarakan kesimpulan dari data-data yang diperoleh. Penarikan kesimpulan bisa dilakukan dengan jalan membandingkan kesesuaian pernyataan dari subjek penelitian dengan makna yang terkandung dengan konsep-konsep dalam penelitian tersebut.

BAB IVHASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANProfile Lokasi PenelitianLokasi yang berada tak jauh dari keramain hilir mudiknya kendaraan membuat suasana sekitar menjadi tenang dan nyaman. Komplek yang berada di wilayah Riung Bandung tepatnya ada pada Jl. Keadilan, dimana komplek tersebut memiliki 11 Rukun Tetangga yang setiap pemilik rumahnya memiliki sikap sopan dan santun.

Setiap rukun tetangganya pasti memiliki satu kepala yang dihormati yang bisa disebut dengan Pa RT. Komplek ini pun memiliki ciri khas tersendiri yakni desain dengan 11 gang yang menandakan 1 gang memiliki 1 rukun tetangga. Disisi lain yang lebih menariknya lagi adalah disetiap gang dalam komplek pastilah memiliki kumpulan para ibu-ibu yang tidak asing lagi dikenal dengan sebutan PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) yang bertujuan untuk mencapai keluarga sejahtera dengan tidak membeda-bedakan golongan, agama, partai dan lain-lain.

komplek riung bandung pun tidak ada beda nya dengan komplek lainnya, dimana komplek riung bandung pun memiliki beberapa visi dan misi untuk menjesahterakan para penduduknya yang diantaranya adalah menjadikan komplek riung bandung yang bersih, sehat dan aman yang dilakukan melalui cara pembersihan lingkungan setiap minggunya dengan bergotong royong serta memiliki posko keamanan setiap RT nya.

Tak hanya itu, didalam komplek terdapat 2 buah masjid untuk memenuhi kebutuhan para kaum muslim beribadah kepada Allah. Dimana masjid-masjid itu tidak pernah kosong setiap harinya, yang selalu ramai akan pengajian ibu-ibu, pengajian remaja serta perkumpulan para bapak-bapak. Disamping itu, ada juga sekumpulan para remaja yang dapat melengkapi keorganisasiannya untuk memudahkan penyampaian aspirasi warga kepada pa RW yang organisasi itu dinamakan karang taruna yang tak kalah serunya setiap tahun mereka selalu mengadakan acara seru antar RT nya.
Lebih hebatnya lagi, komplek tersebut sudah dilengkapi dengan yang namanya CCTV dan pemasangan gerbang setiap gang nya guna meminimalisirkan adanya kejahatan serta lalulalang kendaraan milik pribadi melewat pada jam istirahat. Semakin canggih alat teknologi maka daerah ini pun tak ingin terkalah saingi penggunaannya.
Komplek ini pun memiliki beberapa akun sosial media dengan bertujuan agar memudahkannya setiap warga menuangkan aspirasinya selain melalui jalur kumpulan para remaja. Beberapa akun yang dapat dihubungi:
No Hp Sekretariat RW 09 : 085764531366
Email : HYPERLINK “mailto:[email protected][email protected]
Deskripsi Hasil PenelitianDari wawancara kepada ketiga keluarga yang telah dikunjungi saya mendapatkan beberapa hasil yang begitu menakjubkan untuk saya pribadi rasakan. Sebab banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari berbagai cara mereka yang memperlakukan anaknya dengan baik sampai dengan harapan yang mereka inginkan. Penuturan hasil wawancara sebagai berikut:
Bapak M. Fikri Nasih adalah kepala keluarga yang memiliki satu istri dan tiga orang anak. Anak pertama berusia 17 tahun, anak kedua 11 tahun dan anak ketiga berusia 1 tahun. Pekerjaan yang ia lakukan adalah sebagai konsultan. Mereka berasal dari keluarga yang tidak terlalu kental dengan agama namun ia sebagai kepala keluarga menyadari bahwa ia memiliki tanggungjawab besar didalamnya. Dengan hanya sekedar membawa bekal dari segi materi atau mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan didalam sebuah pernikahan.

Dilihat dari sisi luar pandangan tetangga, keluarga mereka terlihat biasa-biasa saja. Namun tidak demikian, setelah saya mewawancarai kepala keluarga sekaligus istri dari pa fikri ternyata keluarga mereka jauh dari apa yang saya fikirkan. Pendidikan serta pola asuh yang mereka berikan tidaklah amat membuat ketiga anaknya menjadi merasa tidak nyaman atau terkekang didalam rumah. Yang mana pendidikan yang begitu menarik berdasarkan usia serta pola asuh kedemokratisan terbatas yang membuat ketiga anaknya mengerti dan membuat mereka terus menjadi kebanggaan untuk ibu dan bapaknya.

Pertanyaan pertama yang saya ajukan adalah mengenai pengenalan orangtua terhadap anak tentang adanya Allah Swt. Pa fikri menjawab dengan tegas bahwa mereka mengenalkan akan hal itu dengan cara mereka memberikan teladan melalui perantara mengerjakan sholat dan membaca al-Qur’an. Dengan begitu, anak akan bertanya pada orangtua lalu menjelaskan dengan bahasa yang anak-anak fahami sampai kemudian anak akan mengenal dari pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakannya.
Pertanyaan kedua ini yang begitu saya kagumkan atas jawaban keluarga pa fikri dengan saya menanyakan bagaimana anda menanamkan rasa cinta dalam diri anak terhadap al-Qur’an. Pa fikri menjawab, itu sangat mudah dilakukan ketika mereka sekeluarga sedang mengobrol santai didepan televisi atau ketika sedang makan. Diarahkannya anak-anak untuk terus mengerti mana hal yang baik dan buruk versi agama.

Dilanjut dengan pernyataan istri dari pa fikri yang mengatakan, yang terpenting adalah televisi harus hanya ada satu yaitu diletakkan diruang TV dan andaikan kata televisi ada di kamar tidur setiap anak maka tidak akan ada lagi yang namanya perkumpulan keluarga sebab mereka akan sibuk sendiri dengan apa yang mereka lakukan.

Pertanyaan yang ketiga terkait dengan bulan ramadhan yang setiap tahun wajib dijalankan oleh umat Islam yaitu dari umur berapakah anda sebagai orangtua menyuruh anak-anak anda menjalankan ibadah puasa serta apa yang anda lakukan ketika anak anda dapat melaksanakan puasa satu hari penuh atau bahkan satu bulan lamanya. Ia menjawab, kami berdua selalu mengajak anak-anak untuk berpuasa sekemampuan mereka, ketika anak pertama dan anak kedua duduk di bangku taman kanak-kanak mereka hanya melakukan puasa setengah hari sampai akhirnya ketika mereka berusia 9 tahun tepatnya kelas 3 sekolah dasar mereka mampu melakukan puasa satu hari penuh.
Untuk tindakan lebih lanjut tentang apa yang kami lakukan kepada anak-anak setelah mereka dapat menjalankan ibadah puasa dengan semestinya, kami tidak memberikan hal yang lebih terhadapnya sebab, hal itu adalah kewajiban semata yang harus umat Islam jalankan. Sudah menjadi hal yang lumrah ketika orangtua membelikan baju lebaran, mereka merasa itu sudah menjadi hal rutinitas yang harus dilakukan dan tidak dianggap sebagai hadiah berkat anaknya telah berpuasa, karena dia berpuasa ataupun tidak baju baru dihari lebaran mestilah ada.

Pertanyaan keempat terkait dengan penyembahan diri kepada Allah Swt, apakah anda sebagai orangtua selalu mengingatkan anak untuk menjalankan ibadah sholat dan apa yang anda lakukan ketika mengetahui bahwa anak anda melalaikannya. Ia menjawab dengan tanpa rasa malu, justru ia sebagai orangtua yang selalu diingatkan oleh anaknya dan ia melanjutkan pernyataannya ada siklus dimana orangtua tidak selalu benar.

Disamping itu dikeluarga mereka pun memiliki toleran ketika anak mengetahui bahwa bapaknya lebih cape dari dirinya mereka tak boleh begitu saja menegur bapaknya, hanya saja ketika mereka sedang melihat bapaknya sedang duduk santai dan belum melaksanakan sholat barulah anaknya menegur bapaknya untuk segera melakukannya. Disamping itu, mereka secara spontan membanggakan anak pertamanya karena ia telah mampu menjalankan puasa sunnah Rasul senin dan kamis yang keluarga ini tanamkan sejak dini dan mendoktrin bahwasannya puasa dapat menggantikan sesuatu yang kita inginkan.
Dilanjut dengan pertanyaan yang kelima mengenai keteladanan didalam keluarga, apakah anda adalah orang yang pertama kali memberikan teladan yang benar dan baik untuk anak-anaknya. Istrinya pa fikri menjawab dengan seketika bahwa merekalah yang sepenuhnya memberikan teladan baik kepada anak-anaknya sekemampuan mereka dan dilanjut dengan jawaban dari pa fikrinya sendiri dengan mengatakan bahwa ibu nya yang memiliki peran penting terhadap perilaku anaknya sebab ibunya lah yang sangat amat dekat dengan ketiga anaknya.

Pertanyaan yang keenam mengenai pengajaran al-Qur’an kepada anak-anaknya, apakah didalam belajar al-Qur’an anda memilih untuk mengajarkannya sendiri dirumah atau dimasjid-masjid yang terkenal dengan Madrasah Diniyah Takmiliyah (DTA). Pa fikri menjawab bahwa ibunya lah yang pandai mengajarkan al-Qur’an maka ia tak perlu lagi mengirimkan anak-anaknya untuk mengaji ke masjid-masjid terlebih dilihat lebih efektif diajarkan dengan orangtua dibandingkan oleh oranglain yang hanya memiliki sedikit waktunya.

Pertanyaan yang ketujuh tentang seberapa pedulinya kah mereka menempatkan anak-anaknya terhadap lingkungan sekitar. Mereka menjawab dengan sangat kompak bahwa itu hal yang sangat penting untuk diperhatikan sebab lingkungan pengaruhnya lebih besar daripada keluarga. Disisi lain, lingkungan pula yang meringankan beban mereka untuk memantaunya karena ketika anak ditempatkan pada lingkungan yang baik maka orangtua tak perlu repot mencari anaknya sedang bermain dengan siapa dan dimana.

Pertanyaan selanjutnya meliputi teknologi yang sekarang merajalela dizaman millenium ini, dengan bagaimanakah anda selaku orangtua memberikan batasan anak untuk bermain gadget dan diusia berapakah anda memberikan keleluasaan terhadap anak untuk menggunakan teknologi. Yang saya fahami sendiri dari keluarga pa fikri adalah mereka hanya keluarga biasa seperti keluarga-keluarga lainnya yang dapat memberikan gadget kepada anaknya dengan secara bebas, namun tidak demikian ternyata pa fikrinya sendiri pandai sekali terhadap teknologi sehingga anak-anaknya dapat terpantau secara berkelanjutan.
Ia menjawab bahwa jika gadget itu dimainkan secara positif maka mereka selaku orangtua mendukung saja, namun ketika nyatanya anak-anak dari mereka menggunakannya dengan berlebihan atau lebih kepada hal yang negatif maka mereka pun membatasi dengan kuota yang ada. Sebab anak-anak zaman sekarang menggunakan gadget itu sendiri untuk memainkan game online yang menurut mereka itu hanya dapat memboroskan uang saja.
Untuk hal yang lebihnya seperti pemakaian password untuk menjaga keamanan gadgetnya mereka rasa tidak perlu dilakukan. Disamping itu, mereka selalu melakukan pengecekkan setiap harinya terhadap gadget yang anak-anaknya gunakan untuk mengurangi atau membatasi hal-hal yang mungkin dapat dilakukannya diluar batas umurnya yang mungkin masih terbilang belum dewasa.

Namun berbeda halnya ketika nanti anak pertamanya sudah menginjak bangku kuliah, mereka akan memberikan kebebasan lain tanpa mengurangi perhatian mereka selaku orangtua untuk memantaunya lebih jauh. Tidak ada rasa pengekangan terhadap diri anak-anak karena mereka merasa tidak perlu ada yang harus disembunyikan untuk masalah sosial media ini karena menurutnya apa yang sekarang disembunyikan tentulah akan terbuka dengan sendirinya. Penuturan lain dari pa fikrinya sendiri bahwa ia memiliki pemahaman semakin zaman teknologi berkembang maka pengetahuan ia pun harus berkembang saat itu juga. Dilanjut dengan pernyataan yang membuat saya menjadi tahu diantara pernyataannya itu adalah:
Seseorang berkumpul dengan seorang pengacara minimal sedikitnya dia akan menjadi pengacara walau pengacara paling bodoh. Seseorang berkumpul dengan seorang ustadz minimal sedikitnya dia akan menjadi ustadz walau ustadz paling bodoh. Dan seseorang berkumpul dengan penjahat teknologi minimal sedikitnya dia akan menjadi penjahat teknologi walau penjahat teknologi yang paling bodoh.

Maka dari itu menurutnya agama tetap no satu tetapi lingkungan bisa lebih jahat dari apapun.

Pertanyaan kesembilan mengenai pola asuh yang mereka berikan kepada anak-anaknya yaitu dengan pola asuh yang demokratis terbatas artinya mereka perlakukan ketiga anaknya sesuai dengan usianya. Pada usia berapa dia harus mengatakan, jika perlakuannya pantas sesuai dengan usianya maka ia dukung namun jika tidak maka mereka tegur dengan memberikan solusi yang terbaik untuk menggantikan apa yang anak-anaknya inginkan.

Pertanyaan terakhir adalah apakah tujuan akhir dari pendidikan yang anda selaku orangtua berikan kepada anak-anaknya. Ia menjawab bahwa dirinya menginginkan anaknya mapan dan memiliki kehidupan yang lebih baik dari dirinya. Mereka khawatir jika dirinya dan istrinya sudah tidak ada bagaimana kehidupan anaknya jika tidak lebih baik. Maka dari itu, ia dan istrinya semampu mungkin memberikan pendidikan serta penanaman akhlak yang baik untuk masa depan anak-anaknya. Tidak setiap keluarga memiliki motto kehidupan namun lain halnya dengan keluarga satu ini, mereka memiliki motto kehidupan guna menjadikan motivasi untuk mereka hidup yang motto tersebut adalah:
Hidup seadanya, tidak memaksakan tetapi tetap berusaha
Keluarga kedua yang saya wawancara adalah keluarga yang memiliki basic kependidikan yang cukup baik. Bapak Ade Ansor Saefudin, M.Ag namanya, ia memiliki satu istri dan dua anak. Seorang DKM dimasjid Al-falah dan sekarang ia sedang melanjutkan pendidikan S3 nya di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Keluarga yang cukup terpandang dan saya rasa pendidikan yang diberikan kepada anaknya pun dirasa amat cukup baik serta pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukanpun dapat dijawab dengan secara tegas olehnya.

Pertanyaan pertama sama seperti yang saya berikan kepada keluarga sebelumnya, mengenai adanya Allah dan bagaimana cara ia memberikan pemahaman kepada anak-anaknya sampai kedua anaknya dapat memahaminya dengan baik. Ia mengaplikasikan hal itu dengan cara mengenalkan bukti-bukti kekuasaan Allah seperti adanya bumi, matahari, manusia sebagai ciptaanNya. Dan ia pun mengajarinya sedari usia dini sekitar umur 4 tahun ketika anak mulai dapat berkomunikasi.
Pertanyaan kedua yang saya ajukan mengenai penanaman rasa cinta dalam diri anak terhadap al-Qur’an. Ia beserta istrinya bekerja sama akan hal itu, dengan cara menghafal atau melihat ibu dan bapaknya menghafal. Ketika itu, anak akan mengikuti apa yang dilakukan orangtuanya karena fitrah anak itu adalah meniru. Mulai dari umur 2,5 tahun mereka sudah mengajak anak untuk dapat menghafalkan surat-surat pendek.

Pertanyaan ketiga mengenai penekanan untuk selalu berbuat baik dan menjauhi perbuatan buruk. Ia menjawab bahwa ketika anaknya berbuat kesalahan maka ibu dan bapaknya segera memberikan teguran atau diingatkan. Jika anak melakukan itu kembali maka teruslah diingatkan dan diluruskan dan jangan lupa diberitahukan apa yang seharusnya dia lakukan sampai dia mengerti bagaimana dia harus bersikap sehingga timbul pembiasaan untuk terus berbuat kebaikan.

Pertanyaan keempat adalah tentang bulan ramadhan yang selalu dinantikan oleh umat Islam, bagaimana anda sebagai kepala keluarga menyuruh atau mengajak anak untuk menjalankan ibadah puasa dan apa yang selalu anda berikan kepada anak ketika anak dapat menjalankannya satu hari penuh atau bahkan dapat melakukannya satu bulan penuh. Ternyata ia sudah memberitahu pada anaknya ketika umur 2 tahun dan ketika anaknya menduduki taman kanak-kanak ia tidak memberatkan pada anaknya untuk dapat puasa satu hari penuh namun menekankan melatih sekemampuannya.
Disisi lain ketika anaknya dapat melakukannya satu hari penuh atau bahkan satu bulan ia selalu berikan penghargaan seperti barang atau sesuatu yang anaknya inginkan dan tak lupa sesuai dengan kemampuan orangtuanya. Namun, tidak untuk terus dilakukan setiap tahunnya karena pada umur 9 tahun ia berhentikan kebiasaan itu dengan memberikan pemahaman akan diwajibkannya berpuasa sehingga anak tidak akan menuntut penghargaan kembali kepada ibu dan bapaknya.
Pertanyaan kelima mengenai tentang kewajiban melaksanakan sholat dan sangsi apa yang diberikan kepadanya ketika ia tak melalaikannya. Ia membuat jadwal sholat yang mana anak berkewajiban menceklis jadwal pada hari itu ketika anaknya sudah melaksanakan sholat. Ia pun membebaskan anaknya apakah anak itu akan berlaku jujur atau malah membohongi dirinya sendiri. Dan sebelum ia menerapkan hal itu, ia memberikan pemahaman terlebih dahulu kepada anaknya ketika berlaku jujur pasti mendapat pahala namun ketika berbohong maka mendapat dosa. Setelah itu anak akan terbiasa berlaku jujur disetiap harinya ketika akan melakukan sholat.

Pertanyaan keenam tentang pemberian teladan tentang pengalaman agama terhadap anaknya. Ia menjawab ia lah yang memberikan teladan namun yang lebih utama terletak kepada ibunya sebab ibunya lah yang dapat dibilang lebih lama bersama anak-anaknya. Sesudah itu, istrinya bekerja sama dengannya supaya ia dapat melakukan apa yang ibunya lakukan agar dapat seimbang antara ibu dan bapak dan menjauhi sikap keragu-raguan terhadap anak ketika kedua anaknya melihat perbedaan penyikapan dari orangtuanya.

Pertanyaan ketujuh adalah tentang pengajaran al-Qur’an yang ia berikan kepada lembaga atau lebih mengutamakan mengajarkannya sendiri dirumah. Ia menjawab bahwa ia lebih mengutamakan belajar dirumah karena ia dapat lebih memantau anak-anaknya ketika membaca al-Qur’an. Ketika dirasa dia sudah dapat membaca al-Qur’an tanpa bimbingannya ia lepaskan dan mengajarkan untuk terus bertadarus tanpa harus disuruh.

Pertanyaan kedelapan tentang seberapa pedulikah anda untuk menempatkan anak kepada lingkungan. Ternyata ia memberikan kepedulian sepenuhnya dalam artian ia membebaskan anak untuk bergaul dengan siapapun asalkan anak tetap tahu diri dan tahu situasi.

Pertanyaan selanjutnya adalah mengenai perkembangan teknologi pada zaman yang sudah berkembang, ia membatasi anaknya untuk menggunakan gadget dalam artian anak memiliki waktu untuk dibolehkannya bermain gadget. Anak keduanya ia berikan keleluasaan untuk dapat menggunakan gadget hanya pada dihari sabtu selain itu tidak diperbolehkan dan jika anak yang pertama ia persilahkan untuk menggunakannya setiap hari asalkan pergunakan dengan sebaik-baiknya.
Disamping itu, ia memberikan pola asuh yang masih samar untuk dijelaskan namun sepertinya ia dapat melakukannya dengan baik. Pola asuh yang diberikan kepada anaknya adalah yang mengikuti ajaran Rasul yang harus saling meluruskan atau mengingatkan. Dari apa yang dipaparkan olehnya, mungkin saja keluarga tersebut lebih menggunakan pola asuh yang demokratis sebab ketika anak melakukan kesalahan anak di ingatkan dan diluruskan. Didalamnya tidak terdapat indikasi bahwa ada pengekangan dari orangtua atau pembebasan terhadap apa yang dilakukan oleh anaknya.

Dan yang terakhir yang ia harapkan dari semua yang diberikan olehnya kepada anak-anak adalah pendidikan yang terbaik agar menjadi anak yang shaleh dan shalehah, menjadi kebanggaan orangtua, dirinya serta nusa dan bangsa.

Keluarga ketiga yang menurut saya cukup begitu menarik diteliti sebab keluarga ini memiliki satu anak yang cukup baik mengenal agama sedangkan ia masih berumur 7 tahun. Yusuf Nugrahayu namanya, ia berhasil membawa istrinya dan anaknya menuju jalan yang begitu baik melalui pemilihan lingkungan serta kajian-kajian keagamaan yang selalu diikutinya.

Ia dapat menjelaskan adanya Allah Swt kepada anaknya dari caranya menjelaskan dengan bahasa yang anaknya fahami seperti contohnya ia memperkenalkan adanya bumi, matahari sebagai ciptaan Allah Swt yang menandakan itulah kebesaranNya. Ia memberikan pemahaman pula kepada anaknya untuk tidak berlaku sombong sebab manusia tidak memiliki apa-apa dimata Allah Swt.
Menanamkan kecintaan kepada al-Qur’an pun mereka menggunakan cara dengan menjelaskan kebaikan-kebaikan dari membaca al-Qur’an itu seperti ketika dihari kiamat nanti al-Qur’an dapat menjadi penolong bagi orang yang selalu membacanya. Dan lebih mempermudah anak untuk melakukannya mereka memberikan contoh dari kebiasaan kesehariannya membaca al-Qur’an.

Selain dari membaca al-Qur’an mereka pun memberikan motivasi untuk anak mudah melakukan ibadah puasa dibulan Ramadhan dengan cara memberikan hadiah dan memberikan pemahaman bahwa puasa itu diwajibkan oleh Allah Swt. Dan ditahun ini tepatnya 2018 anak pertamanya dapat melakukan puasa satu bulan penuh pada usia 7 tahun.

Dalam melakukan sholat ia belum mewajibkan secara penuh kepada anaknya, dengan artian ibu dan bapaknya tidak selalu menghukumi secara keras ketika anaknya lalai terhadap sholat. Akan tetapi, mereka tetap memberikan didikan melalui keteladanan mereka untuk melakukan sholat setiap hari. Ketika anaknya tidak melakukan sholat tidaklah diancam berlebihan melainkan tetap diajak dengan secara halus melalui penjabaran kebaikan-kebaikan dari sholat itu. Disamping itu, ibunya pandai untuk mengajak anaknya menghadiri kajian rutin keagamaan meski dirasa anak belum mampu mencerna apa yang dijelaskan didalam kajian tersebut.
Dengan rutinnya ibu dan bapak menghadiri kajian keagamaan, mereka dapat mengaplikasikannya didalam rumah tangga. Mereka mengajarkan anaknya untuk setiap kali melakukan sesuatu didahulukan dengan membaca doa karena disisi lain disetiap melakukan sesuatu terdapat adab-adab baik didalamnya terlebih Rasul pun menganjurkannya.

Pemberian teladan utama pun untuk anaknya didalam keluarga ada pada dirinya dan istrinya. Meskipun ia dan istrinya hanya memberikan teladan sekemampunya namun ia merasa ia pun masih perlu dan terus belajar untuk menjadi kepala keluarga yang baik.
Didalam masalah memperdalam bacaan al-Qur’an ia lebih menginginkan anaknya untuk pergi kemasjid dengan teman sebayanya dengan alasan jika mengaji dirumah ia akan berlaku manja dan akan memberikan beribu alasan untuk tidak mengaji. Namun kendati demikian harapannya tidak berbuah manis, sebab anaknya tidak sedang ingin mengaji dimasjid maka tugas ia sebagai kepala keluarga wajib meluangkan waktunya untuk dapat mengajari anaknya mengaji setelah maghrib.

Untuk mengenai pola asuh yang diberikan oleh ayahanda dan ibunda kepada anaknya ialah lebih bersifat kedemokratisan. Tidak membebankan sesuatu yang mereka inginkan untuk kepentingan pribadinya. Justru malah ia menyuruh kepada anaknya untuk melakukan sesuatu sesuka hatinya namun tidak keluar dari batasan syariat Islam.
Lingkungan yang mereka berikan cukup begitu mendukung untuk pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Maka tidak heran jika mereka merasa tidak harus yang banyak mereka kerahkan untuk memperhatikan dengan secara intensif. Disisi lain, ia tidak hanya memberikan lingkungan yang baik terhadap anaknya saja melainkan ia pun memberikan lingkungan yang baik terhadap istrinya serta pekerjaannya. Dimana tidak jarang terlihat mayoritas para ibu-ibu hanya melakukan kegiatannya diselingi oleh bergosip ria. Akan tetapi tidak dengan keluarga mereka, yang setiap harinya disibukkan dengan pekerjaan dan setiap hari liburnya disibukkan dengan menghadiri kajian.

Kehidupan yang terasa sangat agamis namun tidak pula melupakan keduniawian untuk menafkahi keluarga. Mereka sebagai orangtua pun mengalami banyak kesulitan ketika harus menghadapi zaman teknologi yang semakin hari semakin berkembang. Kesulitan yang dihadapi adalah ketika anak menginginkan gadget namun orangtua enggan memberikannya dengan alasan mereka khawatir jika anaknya kecanduan terhadap gadget itu.
Tak sampai disitu pemikirannya, mereka selalu terus berusaha mencari solusi agar anaknya dapat diberikan gadget namun tak ada kekhawatiran didalamnya dengan cara mereka memasukan tak hanya permainan melainkan banyaknya aplikasi-aplikasi yang dapat memberikan wawasan keagamaannya seperti cerita-cerita Nabi, belajar membaca Iqra ataupun menulis huruf hijaiyah.
Disamping telah diberikan aplikasi-aplikasi baik tidak menjadikannya begitu melepaskan anak ketika menggenggam ponsel karena fitrahnya anak itu memiliki keingintahuan yang sangat besar sehingga masih ditakutkan anaknya membuka situs-situs terlarang tanpa sepengetahuan ibu dan bapaknya.
Dan terakhir yang mereka inginkan dari pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anaknya adalah mereka menginginkan anaknya menjadi orang yang lebih baik darinya serta dapat menjadi anak yang shalehah guna membanggakan ibu dan bapaknya serta orang-orang yang ada disekelilingnya.
PembahasanDidalam mini riset ini kami membahas seputar kependidikan agama Islam yang diaplikasikan didalam kehidupan berkeluarga. Pendidikan Agama Islam dalam keluarga memang terdengar sangatlah luas pembahasannya. Namun, kami membatasi pertanyaan yang akan kami teliti hanya dengan beberapa point saja. Point yang kami berikan kepada objek meliputi:
Pengenalan Allah Swt kepada anak
Penanaman rasa cinta dalam diri anak terhadap al-Qur’an
Penekanan pada anak untuk selalu berbuat kebaikan
Pembiasaan terhadap diri anak untuk melakukan ibadah puasa
Pembiasaan terhadap diri anak untuk menjalankan ibadah sholat
Pembiasaan mengajak kepada anak untuk menghadiri pengajian
Pembiasaan berdoa sebelum melakukan sesuatu
Pemberian keteladanan didalam keluarga
Pengajaran kepada anak dalam bidang membaca al-Qur’an
Pola asuh yang orangtua berikan kepada anak
Penempatan lingkungan yang baik kepada anak
Pengaruh gadget terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak
Dan tujuan akhir dari pendidikan yang diberi orangtua kepada anak
Keluarga adalah suatu ikatan laki-laki dan perempuan berdasarkan hukum dan undang-undang perkawinan yang sah. Dalam keluarga inilah akan terjadi interaksi pendidikan yang pertama dan utama bagi anak yang akan menjadi pondasi dalam pendidikan selanjutnya
Dengan demikian, berarti dalam masalah pendidikan yang pertama dan utama, keluargalah yang memegang peranan utama dan memegang tanggung jawab terhadap pendidikan anak-anaknya. Maka dalam keluargalah pemeliharaan dan pembiasaan sikap hormat sangat penting untuk ditumbuhkan dalam semua anggota keluarga tersebut.
Pendidikan keluarga yang baik adalah yang mau memberikan dorongan kuat kepada anaknya untuk mendapatkan pendidikan agama. Pendidikan dalam keluarga mempunyai pengaruh yang penting untuk mendidik anak. Hal tersebut mempunyai pengaruh yang positif dimana lingkungan keluarga memberikan dorongan atau memberikan motivasi dan rangsangan kepada anak untuk menerima, memahami dan meyakini serta mengamalkan ajaran Islam.

Setiap keluarga pasti menginginkan pendidikan yang lebih baik untuk anak-anaknya namun tergantung kepada orangtua memberikannya. Orangtua harus selalu senantiasa terus belajar dan mencari apa yang menjadi ketidaktahuannya agar ketika anak tumbuh dizaman yang berkembang maka ia selaku orangtua tidak terlalu kerepotan akan hal itu.
yang menjadi sebuah masalah saat ini adalah ketika orangtua tidak dapat mengayomi perkembangan anaknya secara baik. Menjadikan anak mendapatkan perlakuan yang tidak diinginkan dan orangtua menginginkan anaknya menjadi apa yang mereka mau. Sebetulnya tidak demikian, orangtua yang pandai dalam hal pendidikan maka ia seharusnya mengetahui pola asuh seperti apa yang dapat menjadikan anak lebih dewasa dan mudah mengerti apa yang orangtua inginkan.

Mendapatkan pendidikan keagamaan itu memanglah sangat penting, tak hanya menerapkan sholat dan puasa saja melainkan orangtua perlu mengenali anaknya terhadap hal-hal yang tidak bisa dilihat namun harus diimani seperti halnya adanya Allah Swt, adanya surga dan neraka serta yang lainnya. Tak jarang, orangtua yang tidak mampu memberikan hal itu justru ia lebih mempercayai kepada guru atau sekolah sekolah berbasis agama.

Pendidikan keluarga mengarahkan agar menuntut ilmu yang benar karena ilmu yang benar membawa anak ke arah amal saleh. Bilamana disertai dengan iman yang benar, agama yang benar, sebagai dasar bagi pendidikan dalam keluarga akan timbul generasi-generasi yang mempunyai dasar iman kebajikan, amal saleh sesuai dengan bakat dan kemampuan yang dimiliki anak. Pendidikan keluarga yang berasaskan keagamaan tersebut akan mempunyai esensi kemajuan dan tidak akan ketinggalan zaman. Pendidikan keluarga harusnya mengajak kepada semua anggota untuk bersikap hormat yang dilandasi keagamaan sehingga akan timbul sifat saling menyempurnakan yang mampu menjangkau seluruh bakat-bakat anggota keluarga, dan berusaha merealisasikan kemampuan berbuat kebaikan.

Dalam keluarga hendaknya dapat direalisasikan tujuan pendidikan agama Islam. Yang mempunyai tugas untuk merealisasikan itu adalah orang tua. Oleh karena itu, ada beberapa aspek pendidikan yang sangat penting untuk diberikan dan diperhatikan orang tua yaitu:
Pendidikan ibadah
Pendidikan pokok-pokok ajaran islam dan membaca al-Qur’an
Pendidikan akhlakul karimah
Pendidikan akidah.
Dilihat dari segi teladan, itu cukup baik namun ada yang lebih baik lagi dari itu yaitu memberikan teladan pengajaran agama oleh orangtua sendiri dengan cara memberikan contoh perlakuan spiritual dari ibu dan bapaknya. Orangtua memiliki peranan besar untuk dapat memberikan contoh yang baik sebab merekalah yang dapat melakukan itu setiap harinya.

Tak hanya memberikan teladan melainkan orangtua pun harus dapat memberikan lingkungan yang baik untuk kehidupan anak-anaknya. Ketika orangtua menginginkan pergaulan yang baik maka tidak bisa ia tempatkan anak-anak didalam lingkungan yang tidak baik. Lingkungan dinilai sangat jahat karena tidak semua orang berasal dari keluarga atau dari tradisi yang sama.
Lingkungan pun selalu dikaitkan dengan adanya gadget yang setiap harinya berkembang pesat. Kumpulan orang-orang baik akan memperlakukan gadgetnya dengan hal yang sangat positif. Orangtua yang mendapatkan lingkungan baik akan memberikan sikap yang bijak terhadap penggunaan gadget kepada anaknya. Seperti halnya dengan memberikan aplikasi-aplikasi yang sangat bernilai positif contohnya adalah kisah-kisah para Nabi, belajar Iqra’ atau hal lainnya yang dapat membantu perkembangan ilmunya.

Begitupun halnya dengan pengetahuan yang dimiliki orangtua. Semakin berkembangnya teknologi maka perkembangan pengetahuan orangtua perlu ditambah. Sebab ketika orangtua tertinggal pengetahuannya maka anak akan sewenang-wenang menggunakan gadget kepada hal yang negatif. Disamping itu, dilihat dari akhir pendidikan yang diinginkan orangtua adalah rata-rata mereka menginginkan anaknya menjadi anak yang shaleh dan shalehah serta dapat menjadikan hidupnya lebih baik. Maka dari itu, sebagai orangtua yang memiliki tanggungjawab besar sudah seharusnya melakukan usaha yang terbaik untuk anak-anaknya walau harus mengeluarkan tenaga besar atau uang yang tidak sedikit bilangannya.

BAB VSIMPULAN DAN SARANSimpulanPendidikan Agama Islam didalam keluarga perlulah ditanamkan oleh orangtua kepada anak sejak didalam kandungan sebab pembiasaan yang dilakukan orangtua akan menjadikan anak mengikuti langkahnya. Fitrah dari anak adalah selalu menirukan apa yang ia lihat maka tak heran jika ada pepatah “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” hal itu tidak hanya mengindikasikan kepada kemiripan orangtua terhadap anaknya melainkan sikap yang ia lihat pun akan ia tiru. Maka dari itu, penting kiranya orangtua yang bijak menjadi sosok figur teladan yang baik untuk anak-anaknya.

Menjadi teladan yang baik untuk anak-anaknya adalah salah satu tugas yang wajib di lakukan oleh orangtua untuk menjadikan anak yang shaleh dan shalihah. Tak hanya itu, didalam keteladanan itu sendiri mereka tak hanya menuntut anak untuk melakukan apa yang orangtua perintah melainkan keteladanan penting kiranya dibarengi dengan suatu perbuatan. Seperti halnya dalam dalam lingkupan pendidikan agama Islam didalam keluarga orangtua memiliki peran besar untuk mengajak anak melakukan berbagai macam peribadahan guna memudahkan setiap anak melakukannya dengan kurun waktu yang berkelanjutan.
Mengajak dengan baik perlu orangtua berikan agar menjauhkan dari pengindikasian bahwa anak merasa terkekang akan kebiasaan yang dilakukannya. Hal ini membuktikan bahwa pola asuh yang orangtua terapkan harus benar-benar baik sesuai kapasitas dan umur yang ditempuhnya. Pola asuh yang baik adalah ketika orangtua dan anak sama-sama ikut andil dalam menjalankan apa yang sudah mereka sepakati bersama dan pola asuh itu disebut dengan pola asuh autoritatif (demokratis).

SaranDari hasil yang saya dapatkan bahwa menjadi orangtua sangatlah sulit ketika ia tak memiliki banyak pengetahuan maka dari itu penting kiranya kami sebagai calon para orangtua menuntut ilmu sepanjang hayat.

DAFTAR PUSTAKAAhmadi Abu, 2004, Sosiologi Pendidikan, Jakarta, Rineka Citra.

Ashraf Ali, 1993, Horizon Baru Penddikan Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Anas Sudjiono, 2012, Pengantar Statistika Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Asef Umar Fakhruddin, 2011, Terapan Quantum Learning untuk Keluarga, Yogyakarta: Laksana.

Baron, Robert A. dan Donn Byrne. 2005, Psikologi Sosial, Jilid ke dua, Erlangga. Jakarta.

Departemen Agama RI, 1989, Al-Quran dan Terjemahnya, Semarang; PT Toha Putra.

Depdikbud, 2007, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.

Desmita, 2005, Psikologi Perkembangan, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Diana Mutiah, 2010, Psikologi Bermain Anak Usia Dini, Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Elizabeth B. Hurlock, 1999, Perkembangan Anak, Jakarta: Erlangga.

H. M. Burhan Bungin, 2011, Penelitian Kualitatif, Jakarta: Prenada Media Group.

Horton, Paul .B dan Chester .L.Hunt. 1999. Sosiologi. Edisi keenam. Erlangga. Jakarta.
Iswantini, 2007, Berbagai Pola Asuh Orang Tua terhadap Perkembangan Anak, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Maimunah Hasan, 2011, Pendidikan Anak Usia Dini, Yogyakarta: Diva Press
Moh. Shochib, 1998, Pola Asuh Orang Tua untuk Membantu Anak Mengembangkan Disiplin Diri, Jakarta: Rineka Cipta.

Muhammad Idrus, 2009, Metode Penelitian Ilmu Sosial Pendekatan Kualitatif dan Kualitatif, Jakarta: Erlangga.

Ngalim purwanto, 1998, Ilmu Pendidikan: Teoritis Danpraktis, Bandung: Remaja Karya.
Nur Uhbiyati, 1997, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia.

Sudarta, Wayan. 2008. Ketimpangan Gender Di Bidang Pendidikan.

Soegeng Santoso, 2012, Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta: Yayasan Citra Pendidikan Indonesia.

Zahra Idris, Pengantar Pendidikan I, Jakarta: GrasindoZakiah Darajat, 1976, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang
Dwi Hastuti, Skripsi Program Sarjana: “Pengasuhan : Teori dan Prinsip serta Aplikasinya Di Indonesia Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen”, (Bogor: IPB. Bogor, 2008)
Maria Dewi Rahayu, Skripsi Program Sarjana: “Pola Asuh Anak Ditinjau dari Aspek Relasi Gender”. (Bogor: IPB Bogor, 2009)
Bayu Dark. “Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Proses Pendewasaan Anak”. http://muhammadbayusyaifullah.blogspot.com/2014/01/pengaruh-pola-asuh-orang-tua-terhadap.html. (Januari 2014). Diakses, 18 juni 2018.

Fitri Lestari Issom, S. Pd., M.Si, PENDIDIKAN ISLAM DIDALAM KELUARGA DAN MASYARAKAT, diakses dari http://googleweblight.com/i?u=http://www.ilmupendidikan.net/2010/08/19/pendidikan-islam-dan-keluarga-dan-masyarakat.php;hl=id-ID di unduh tanggal 18 juni 2018 jam 05.00

LAMPIRANPertanyaan WawancaraWawancara yang dilakukan kepada orangtua adalah meliputi beberapa pertanyaan yang diajukan, antara lain:
Apakah anda selalu mengingatkan pada anak bahwa adi kuasa di alam semesta ini adalah Allah SWT? Bagaimana cara anda mengenalkannya sampai dia benar-benar faham akan hal itu?
Bagaimana cara untuk menanamkan rasa cinta dalam diri anak terhadap Al-Qur’an? Mengajak disertai melakukan atau hanya sekedar memerintah?
Apakah anda selalu menekankan pada diri anak untuk selalu berbuat kebaikan?
Pada usia berapakah anda menyuruh anak anda untuk melakukan puasa pada bulan Ramadhan dan apa yang dilakukan anda ketika anak anda dapat melakukan puasa satu hari penuh ?
Apakah anda selalu mengajak anak anda shalat dan apa hukuman untuk anak ketika ia lalai terhadap shalatnya ?
Apakah anda selalu mengajak anak anda menghadiri pengajian agama ?
Apakah anda selalu membiasakan anak anda untuk berdoa sebelum melakukan sesuatu ?
Apakah anda orang yang pertama kali memberikan teladan tentang pengalaman agama Islam yang benar bagi anak ?
Jika dalam belajar al-Qur’an apakah anda memilih untuk mengajarkannya dirumah atau pada lembaga seperti DTA ?
Pola asuh seperti apa yang anda terapkan pada anak-anak anda ?
Seberapa pedulikah anda menempatkan anak-anak anda pada lingkungan sekitar?
Bagaimana anda membatasi anak anda dalam penggunaan gadget dan pada usia berapakah anda memberikan keleluasaan terhadap anak akan hal itu ?
Apakah tujuan akhir anda dari pendidikan yang sudah anda beri pada anak ?